Kilas Merdeka, Lampung – Sebuah inovasi teknologi tepat guna berupa lampu penarik ikan bawah air berbasis Light Emitting Diode (LED) dan energi surya tengah dikembangkan untuk membantu meningkatkan efisiensi penangkapan ikan, khususnya bagi nelayan skala kecil.
Pengembangan alat ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya penggunaan lampu konvensional berbahan bakar fosil dalam kegiatan penangkapan ikan. Selain membutuhkan biaya operasional besar, penggunaan bahan bakar tersebut juga dinilai kurang ramah lingkungan. Distribusi cahaya yang belum optimal di dalam air turut menyebabkan proses penarikan ikan belum maksimal.
Melalui penelitian bertajuk “Rancang Bangun Lampu Penarik Ikan Bawah Air Berbasis LED dan Energi Surya untuk Meningkatkan Efisiensi Penangkapan Ikan”, tim peneliti Polinela yang terdiri dari Citra Mulia, Ari Setiawan dan Iwan Haryadi berupaya menghasilkan prototipe lampu bawah air yang hemat energi, tahan terhadap kondisi perairan, dan mudah dioperasikan oleh nelayan.
Teknologi LED dipilih karena memiliki konsumsi daya rendah, umur pakai panjang, serta mampu menghasilkan pencahayaan yang lebih terarah. Sementara itu, energi surya dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap genset dan bahan bakar fosil.
Penelitian tersebut menggunakan metode rekayasa dengan beberapa tahapan, mulai dari perancangan sistem, pembuatan prototipe, integrasi panel surya dan baterai, hingga pengujian laboratorium serta uji lapangan. Pengujian dilakukan untuk mengukur intensitas dan distribusi cahaya, efisiensi energi, ketahanan alat terhadap air, serta daya tahan baterai.
Dalam uji lapangan, kinerja lampu LED akan dibandingkan dengan lampu konvensional. Tim peneliti menargetkan alat tersebut mampu mencapai efisiensi energi minimal 80 persen dan meningkatkan hasil tangkapan ikan sekurang-kurangnya 20 persen
Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan lampu celup LED berpotensi meningkatkan hasil tangkapan ikan. Pada salah satu penelitian, lampu celup LED menghasilkan tangkapan 3.779 kilogram, lebih tinggi dibandingkan lampu neon yang menghasilkan 2.343 kilogram. Penelitian lain pada alat tangkap gillnet juga mencatat hasil tangkapan 189,765 kilogram dengan lampu celup, sedangkan penggunaan gillnet tanpa lampu hanya menghasilkan 102,575 kilogram.
Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi lampu LED bawah air dengan sistem energi surya dalam satu perangkat yang dirancang agar portabel dan aplikatif bagi nelayan skala kecil. Selain meningkatkan efisiensi operasional, inovasi tersebut diharapkan dapat mendukung praktik penangkapan ikan yang lebih berkelanjutan.
Penelitian ini direncanakan menghasilkan prototipe lampu penarik ikan, dokumen teknis, standar operasional prosedur penggunaan alat, video hasil penelitian, serta publikasi ilmiah pada jurnal nasional terakreditasi. Dalam jangka panjang, teknologi tersebut diharapkan dapat dikembangkan menjadi produk siap pakai dan dimanfaatkan secara lebih luas oleh masyarakat nelayan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lampu LED tahan pada selama 3 jam di dalam air, ketahan tersebut dapat bertambah tergantung seberapa banyak energi yang terserap di dalam baterai penampung panel surya. Untuk kedepannya penelitian ini diharapkan dapat disosialisasikan kepada nelayan dan digunakan untuk keperluan penangkapan ikan terutama pada saat musim ikan paceklik.















