Di balik sunyinya usia senja, masih banyak lansia terlantar yang menjalani hari-hari tanpa kepastian pangan, tanpa keluarga yang menopang, dan tanpa kekuatan fisik untuk kembali bekerja. Realitas inilah yang sejak awal telah dipikirkan oleh Ketua Umum Yayasan Niko Cahaya Abadi, Eky Haneko S, dan kemudian dituangkan sebagai bagian dari visi-misi lembaga dalam pengajuan proposal kemitraan bersama Badan Gizi Nasional.
Dalam perumusan program tersebut, dipahami bahwa arah besar kebijakan nasional di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat agar rakyat memiliki kesempatan bekerja, mandiri, dan berdaya secara ekonomi. Namun di sisi lain, terdapat kelompok masyarakat yang secara kondisi fisik tidak lagi memungkinkan untuk ikut dalam skema pemberdayaan produktif, yakni para lansia terlantar yang hidup dalam keterbatasan dan ketiadaan dukungan keluarga.
Atas dasar pemahaman tersebut, Yayasan Niko Cahaya Abadi memandang bahwa keberpihakan terhadap lansia bukan sekadar bentuk bantuan sosial, tetapi bagian dari tanggung jawab moral dan sosial dalam mendukung visi kesejahteraan nasional. Sebagai mitra pelaksana dan bagian dari unsur yang membantu menjalankan program-program pemerintah, Yayasan menilai bahwa dukungan terhadap kelompok lansia harus dihadirkan dalam bentuk yang konkret, terukur, dan berkelanjutan.
Melalui program Sembako Gizi Gratis bagi Lansia Terlantar, perhatian tersebut diwujudkan dengan memastikan bahwa para lansia yang tidak lagi memiliki kemampuan bekerja tetap dapat memperoleh hak dasarnya untuk hidup layak, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi. Program ini menjadi bentuk nyata bahwa kesejahteraan tidak hanya harus diberikan kepada mereka yang produktif, tetapi juga kepada mereka yang telah melewati masa pengabdian hidup dan kini berada pada fase paling rentan.
Bagi Yayasan Niko Cahaya Abadi, mendukung kesejahteraan lansia adalah bagian dari pengabdian kepada negara dan bentuk nyata keberpihakan terhadap nilai kemanusiaan. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya terletak pada seberapa banyak rakyat yang diberdayakan, tetapi juga pada seberapa kuat negara dan masyarakat menjaga mereka yang sudah tidak lagi mampu berdiri sendiri.















