Semarang – Di tengah kebutuhan Indonesia akan semakin banyak ilmuwan muda yang mampu menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat, dr. Aqsa Aufa Syauqi Sadana menunjukkan bahwa usia bukanlah penghalang untuk berkarya. Pada 8 Juni 2026, saat usianya 22 tahun 9 bulan, Aqsa resmi menyelesaikan pendidikan Magister Ilmu Biomedik di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dengan predikat Cumlaude dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00. Prosesi wisuda dilaksanakan pada 29 Juli 2026 di Muladi Dome Universitas Diponegoro.
Pendidikan magister tersebut ditempuh melalui skema Degree by Research (DBR) hasil kolaborasi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Selama 1 tahun 4 bulan 1 hari, Aqsa menempuh proses penelitian secara penuh, mulai dari penyusunan proposal, pengambilan data, analisis laboratorium, hingga penyusunan karya ilmiah.
Tesis yang disusunnya mengkaji hubungan antara variasi genetik dengan paparan merkuri selama kehamilan serta dampaknya terhadap komplikasi obstetri dan luaran kelahiran. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya bukti ilmiah dalam pengembangan strategi pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan ibu dan anak di Indonesia.
Meski dikenal aktif di dunia akademik, Aqsa meyakini bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di laboratorium. Baginya, penelitian harus mampu diterjemahkan menjadi aksi nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Prinsip tersebut telah ia pegang sejak masih menjadi mahasiswa. Selain aktif melakukan penelitian, Aqsa juga rutin terlibat dalam berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat, mulai dari edukasi kesehatan, pemberdayaan masyarakat, pendampingan kelompok pemuda, hingga pelatihan inovasi di berbagai daerah. Berbagai kegiatan tersebut menjadi ruang baginya untuk memahami persoalan kesehatan secara langsung sekaligus memastikan bahwa hasil riset dapat menjawab kebutuhan masyarakat.
Semangat pengabdian tersebut juga diwujudkan melalui AQSA Center, sebuah wadah yang ia dirikan untuk mendorong lahirnya generasi muda yang aktif dalam pendidikan, penelitian, inovasi, kepemimpinan, dan kegiatan sosial. Melalui komunitas ini, Aqsa bersama tim menginisiasi berbagai program pemberdayaan, pelatihan, pendampingan, serta kegiatan kemanusiaan yang melibatkan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat.
Di sisi lain, kiprahnya di dunia riset juga mendapat pengakuan di tingkat nasional maupun internasasional. Selama beberapa tahun terakhir, Aqsa berhasil meraih berbagai penghargaan pada kompetisi penelitian dan inovasi internasional, sekaligus membawa karya inovasi Indonesia bersaing di berbagai forum global. Baginya, setiap kompetisi bukan sekadar ajang meraih medali, tetapi kesempatan untuk menguji kualitas inovasi sekaligus membangun jejaring kolaborasi dengan peneliti dari berbagai negara.
Salah satu perjalanan yang paling berkesan adalah ketika berhasil menjadi Pemenang DPD RI Award. Penghargaan tersebut diberikan kepada generasi muda yang dinilai memiliki kontribusi nyata melalui inovasi dan pengabdian kepada masyarakat. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa inovasi harus memberikan dampak yang nyata, bukan hanya menjadi prestasi di atas kertas.
Ke depan, Aqsa berkomitmen untuk terus mengembangkan penelitian di bidang genetika, toksikologi lingkungan, biomarker molekuler, serta kesehatan ibu dan anak. Ia berharap dapat memperkuat kolaborasi dengan berbagai institusi dalam dan luar negeri untuk menghasilkan inovasi kesehatan yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat Indonesia.
Ia juga menyampaikan rasa syukur serta mengucapkan terima kasih kepada keluarga, para dosen, pembimbing, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, BRIN, rekan-rekan peneliti, dan seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan akademiknya.















