Kilas Merdeka, Sumba Timur – Kekayaan budaya, bentang alam, dan tradisi tenun ikat menjadikan Sumba Timur memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis komunitas. Namun, keterbatasan pemanfaatan teknologi digital masih menjadi tantangan dalam memperkenalkan potensi desa, memasarkan produk lokal, dan mendokumentasikan pengetahuan budaya yang selama ini diwariskan secara lisan.
Menjawab tantangan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat Telkom University yang diketuai oleh Prof. Dr. Augustina Asih Rumanti, M.T., bersama anggota tim, melaksanakan program bertajuk “Pengembangan Desa Wisata Berbasis Komunitas di Sumba Timur melalui Penerapan Literasi Digital Berkelanjutan.” Program ini merupakan bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi digital, penguatan ekonomi kreatif, dan pelestarian budaya lokal. Kegiatan dilaksanakan di empat desa, yaitu Desa Hambapraing, Mondu, Watuhadang, dan Patawang, Kabupaten Sumba Timur.
Kegiatan berlangsung pada 28–29 Juli 2026. Pelaksanaan hari pertama dilakukan di Desa Hambapraing mulai pukul 11.30 WITA dan dilanjutkan di Desa Mondu pada pukul 15.00 WITA. Pada hari berikutnya, kegiatan berlangsung di Desa Watuhadang mulai pukul 11.30 WITA, kemudian dilanjutkan di Desa Patawang pada pukul 15.00 WITA.
Program ini berfokus pada pemanfaatan teknologi sebagai sarana promosi desa wisata, penguatan ekonomi kreatif, dan pelestarian budaya lokal. Dua platform utama yang diperkenalkan kepada masyarakat adalah visitdesasumba.com dan elearningsumba.com.
Website visitdesasumba.com dikembangkan sebagai media informasi dan promosi digital yang menampilkan profil keempat desa sasaran. Melalui website tersebut, pengunjung dapat memperoleh informasi mengenai potensi wisata, budaya, fasilitas, lokasi, dokumentasi visual, hingga produk unggulan masyarakat.
Salah satu fitur utama website adalah katalog produk UMKM yang menampilkan kain tenun ikat dan berbagai produk ekonomi kreatif lokal. Informasi produk disajikan dalam bentuk foto, nama produk, nama penjual, harga, deskripsi singkat, dan kontak yang dapat dihubungi calon pembeli. Fitur ini diharapkan dapat membantu kelompok penenun dan pelaku UMKM memperluas promosi produk mereka kepada wisatawan maupun konsumen dari luar daerah.
Selain halaman yang dapat diakses masyarakat umum, website tersebut dilengkapi halaman pengelolaan atau admin. Melalui halaman ini, pengelola desa dapat menambahkan produk, memperbarui harga, mengganti foto, mencantumkan kontak penjual, serta memperbarui informasi desa secara mandiri.
Dalam pelatihan, peserta diperkenalkan dengan tampilan halaman utama, menu destinasi, profil setiap desa, katalog produk, serta tahapan pengelolaan informasi melalui halaman admin. Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai pentingnya menggunakan foto yang jelas, informasi yang akurat, dan narasi yang menarik agar konten digital mampu menggambarkan karakteristik setiap desa.
Tidak hanya berfokus pada promosi wisata dan produk lokal, program ini juga menghadirkan elearningsumba.com sebagai media pembelajaran digital mengenai tenun ikat Sumba Timur. Platform tersebut dikembangkan untuk membantu mendokumentasikan pengetahuan yang selama ini lebih banyak diwariskan melalui praktik langsung dan penjelasan lisan dari para penenun.
Materi pembelajaran dalam platform mencakup pengenalan tenun ikat Sumba Timur, motif dan makna filosofis, alat dan bahan, tahapan menenun ikat, serta pewarnaan alami. Peserta dapat bergabung dalam modul, membaca atau menonton materi, mengerjakan kuis, dan melihat hasil pembelajaran.
Keberadaan platform e-learning diharapkan dapat membuka ruang belajar yang lebih luas bagi masyarakat dan generasi muda. Pengetahuan mengenai tenun tidak hanya tersimpan pada kelompok penenun senior, tetapi dapat didokumentasikan secara lebih sistematis dan dipelajari kembali secara berkelanjutan.
Pada tahap awal, tim menjelaskan tujuan dan manfaat penggunaan teknologi digital. Selanjutnya, penggunaan fitur website dan e-learning didemonstrasikan secara langsung. Peserta kemudian mengikuti langkah yang telah dicontohkan melalui perangkat telepon pintar maupun komputer dengan pendampingan dari tim.
Pendekatan praktik langsung dipilih karena peserta memiliki pengalaman dan kemampuan digital yang beragam. Ketika peserta mengalami kesulitan, tim mengulangi demonstrasi dan memberikan arahan menggunakan bahasa sederhana sampai setiap tahapan dapat dipahami.
Kegiatan juga diisi dengan diskusi mengenai informasi yang perlu ditampilkan pada website, pemilihan foto, penyusunan profil desa, pendataan produk tenun, dan mekanisme pembaruan konten. Masyarakat diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman, kebutuhan, serta masukan berdasarkan kondisi masing-masing desa.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat tidak ditempatkan hanya sebagai penerima teknologi, tetapi juga sebagai pemilik pengetahuan lokal dan calon pengelola platform. Pemuda desa dapat berperan dalam pembaruan konten dan pengelolaan teknis, kelompok penenun menyediakan informasi mengenai produk dan pengetahuan tenun, sedangkan perangkat desa dan kelompok sadar wisata mengelola informasi mengenai destinasi dan kegiatan masyarakat.
Untuk membantu pemanfaatan platform setelah pelatihan selesai, tim turut menyusun guidebook visitdesasumba.com, panduan penggunaan elearningsumba.com, serta modul pembelajaran e-learning. Panduan tersebut dapat digunakan oleh masyarakat dalam mengakses, mengelola, dan memperbarui konten digital secara mandiri.
Pelaksanaan program di Hambapraing, Mondu, Watuhadang, dan Patawang menunjukkan bahwa digitalisasi desa tidak cukup dilakukan dengan menyediakan website atau aplikasi. Teknologi perlu diperkenalkan melalui pelatihan, praktik, dan pendampingan agar benar-benar dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui keberadaan website desa wisata dan platform e-learning, potensi budaya, produk tenun, dan pengetahuan lokal Sumba Timur diharapkan semakin mudah dikenal oleh masyarakat luas. Program ini sekaligus menjadi langkah untuk memperkuat peran masyarakat sebagai pengelola desa wisata, pelaku ekonomi kreatif, dan penjaga keberlanjutan budaya lokal.















