Aqila Rahmani, Anak Muda Indonesia yang Layak Diberi Ruang untuk Mengabdi

Selasa, 30 Juni 2026 - 10:24 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Aqila Rahmani, Anak Muda Indonesia yang Layak Diberi Ruang untuk Mengabdi

Aqila Rahmani, Anak Muda Indonesia yang Layak Diberi Ruang untuk Mengabdi

Kilas Merdeka, Jakarta – Dalam setiap perjalanan organisasi, ada orang-orang yang bekerja tidak selalu terlihat di depan layar, tetapi kehadirannya terasa dalam keberlangsungan gerak organisasi. Bagi AMAN, Aqila Rahmani adalah salah satu dari sosok tersebut.

Sebagai bagian dari keluarga besar Anak Muda Amankan Nusantara atau AMAN, kami mengenal Aqila Rahmani bukan dari sorotan atau polemik, melainkan dari kontribusi, tanggung jawab, dan komitmennya dalam membangun ruang pengabdian anak muda Indonesia.

Aqila Rahmani merupakan bagian penting dari struktur AMAN. Dalam organisasi, ia dipercaya sebagai Bendahara Umum AMAN, sebuah posisi yang tidak hanya menuntut ketelitian, tetapi juga integritas, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab yang besar. Di balik setiap gerakan organisasi, selalu ada kebutuhan untuk menjaga kepercayaan, kerapihan, dan keberlangsungan kerja. Di ruang itulah Aqila banyak berkontribusi.

AMAN adalah organisasi anak muda, diaspora, dan purna diaspora yang lahir dari semangat untuk ikut menjaga arah kebangsaan. Kami percaya bahwa anak muda Indonesia tidak cukup hanya menjadi penonton. Anak muda harus diberi ruang untuk berpikir, bekerja, berkontribusi, dan ikut bertanggung jawab atas masa depan bangsa.

Dalam perjalanan AMAN, Aqila Rahmani ikut menjadi bagian dari kerja-kerja tersebut. Ia tidak hanya hadir sebagai nama dalam struktur, tetapi juga sebagai pribadi yang mendukung jalannya organisasi dengan keseriusan. Dalam berbagai agenda, diskusi, dan proses kelembagaan, Aqila menunjukkan bahwa anak muda dapat bekerja dengan tertib, profesional, dan bertanggung jawab.

Karena itu, ketika muncul sorotan terhadap Aqila Rahmani sebagai figur muda yang dipercaya mengisi posisi strategis, AMAN melihat hal ini dengan kacamata yang lebih utuh. Kritik publik tentu sah. Setiap jabatan publik atau posisi strategis memang harus diawasi. Namun, kritik yang sehat seharusnya berdiri di atas ukuran yang objektif: integritas, kompetensi, independensi, rekam jejak, dan kontribusi nyata.

Baca Juga:  Telkom Witel Jakarta Inner Perkuat Kapasitas UMKM melalui Edukasi Sustainability dan Green Industry

Yang tidak adil adalah ketika seseorang langsung diragukan hanya karena usianya.

Dalam konteks Aqila Rahmani, publik perlu melihat bahwa ia memiliki latar belakang pendidikan hukum, pengalaman profesional, pengalaman organisasi, serta pernah berkiprah di ruang strategis negara. Ia pernah berpengalaman di bidang investasi, pemasaran, serta ikut dalam lingkungan kerja yang berkaitan dengan isu kebangsaan dan keamanan nasional melalui BNPT. Pengalaman-pengalaman tersebut membentuk cara pandang yang tidak hanya administratif, tetapi juga strategis.

Bagi AMAN, pengalaman organisasi juga penting untuk dibaca sebagai bagian dari rekam jejak. Tidak semua kontribusi anak muda dapat diukur hanya dari jabatan formal di perusahaan. Banyak hal yang justru terlihat dari cara seseorang bekerja dalam organisasi: bagaimana ia menjaga amanah, bagaimana ia mendukung tim, bagaimana ia hadir dalam proses, dan bagaimana ia ikut memastikan sebuah gerakan berjalan dengan baik. Aqila Rahmani telah menunjukkan hal itu di AMAN.

Sebagai Bendahara Umum, ia berada dalam posisi yang menuntut kepercayaan. Dalam organisasi anak muda yang terus berkembang, peran seperti ini bukan sekadar administratif. Ini adalah peran yang berkaitan dengan tata kelola, akuntabilitas, dan keberlanjutan organisasi. Ia ikut menjaga agar AMAN dapat terus bergerak sebagai wadah anak muda yang ingin berkontribusi bagi bangsa.

AMAN percaya bahwa regenerasi tidak boleh hanya menjadi slogan. Regenerasi harus diwujudkan dengan memberi ruang kepada anak muda untuk mengambil tanggung jawab. Tentu, ruang itu harus disertai standar. Anak muda harus siap bekerja, siap diuji, siap dikritik, dan siap membuktikan diri. Tetapi anak muda juga tidak boleh dihakimi lebih dulu hanya karena belum sesuai dengan bayangan lama tentang kepemimpinan.

Indonesia sering berbicara tentang bonus demografi. Kita sering mengatakan bahwa masa depan bangsa ada di tangan anak muda. Tetapi ketika anak muda benar-benar masuk ke ruang strategis, sering kali mereka justru langsung dicurigai. Ini adalah ironi yang harus kita renungkan bersama.

Baca Juga:  BMKG Gandeng Telkom Indonesia Perkuat Pertahanan Siber Nasional Lewat Layanan Cyber Security

Jika anak muda tidak diberi kesempatan, kapan mereka akan belajar memikul tanggung jawab besar? Jika setiap langkah anak muda langsung dipatahkan oleh prasangka, bagaimana Indonesia bisa melahirkan generasi pemimpin baru?

AMAN tidak mengatakan bahwa anak muda harus dibela tanpa kritik. Sebaliknya, AMAN percaya bahwa setiap amanah harus dijalankan dengan akuntabilitas. Tetapi kritik harus diarahkan pada substansi. Jika ada pertanyaan tentang kapasitas, mari uji dengan rekam jejak. Jika ada keraguan, mari ukur dengan kinerja. Jika ada kekhawatiran, mari jawab dengan transparansi. Namun jangan menjadikan usia muda sebagai alasan untuk menutup pintu pengabdian.

Aqila Rahmani, seperti banyak anak muda Indonesia lainnya, berhak diberi ruang untuk membuktikan diri. Bukan ruang tanpa pengawasan, tetapi ruang yang adil. Bukan kepercayaan tanpa tanggung jawab, tetapi kesempatan untuk bekerja, belajar, dan mengabdi.

Dari pengalaman kami di AMAN, Aqila adalah bagian dari generasi muda yang mau terlibat, mau bekerja, dan mau mengambil tanggung jawab. Ia telah berkontribusi dalam menjaga keberlangsungan organisasi dan mendukung gerakan anak muda yang ingin mengambil peran bagi Indonesia.

Pada akhirnya, perdebatan tentang Aqila Rahmani bukan hanya tentang satu orang. Ini adalah tentang bagaimana bangsa ini memperlakukan anak mudanya. Apakah kita sungguh ingin memberi ruang kepada generasi baru, atau hanya menjadikan regenerasi sebagai kata-kata indah tanpa keberanian untuk melaksanakannya?

AMAN memilih percaya bahwa anak muda Indonesia harus diberi kesempatan. Diawasi, tentu. Diuji, pasti. Tetapi juga diberi ruang untuk bekerja dan membuktikan diri.

Karena masa depan Indonesia tidak akan lahir dari prasangka. Masa depan Indonesia lahir dari keberanian memberi amanah, menjaga akuntabilitas, dan membuka jalan bagi generasi yang ingin mengabdi.

Berita Terkait

Telkom Witel Jakarta Inner Perkuat Kapasitas UMKM melalui Edukasi Sustainability dan Green Industry
Telkom Witel Jakarta Inner Dorong UMKM Berkelanjutan melalui Edukasi Green Knowledge
Muhammadiyah Tetapkan Ramadan 2027, Ini Jadwal Puasa dan Lebaran
SK Manajer Kopdes Segera Terbit, Ini Status dan Gajinya
Suahasil Nazara Jadi Menkeu, Ini Profil dan Perjalanan Kariernya
Telkom Dorong UMKM Naik Kelas melalui Pelatihan Kreatif dan Penguatan Keterampilan Usaha
Indibiz Bantu UMKM Love Cooking Naik Kelas lewat Digitalisasi dan Pemanfaatan AI
Merayakan Kemerdekaan dengan Berkarya, BPOM Perkuat Kebersamaan dan Kepedulian Konsumen
Jadikan kilasmerdeka.com sumber pilihan pencarian Google.
Tambahkan

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 13:27 WIB

Telkom Witel Jakarta Inner Perkuat Kapasitas UMKM melalui Edukasi Sustainability dan Green Industry

Selasa, 22 September 2026 - 13:17 WIB

Telkom Witel Jakarta Inner Dorong UMKM Berkelanjutan melalui Edukasi Green Knowledge

Jumat, 18 September 2026 - 00:23 WIB

SK Manajer Kopdes Segera Terbit, Ini Status dan Gajinya

Selasa, 15 September 2026 - 00:21 WIB

Suahasil Nazara Jadi Menkeu, Ini Profil dan Perjalanan Kariernya

Kamis, 27 Agustus 2026 - 12:20 WIB

Telkom Dorong UMKM Naik Kelas melalui Pelatihan Kreatif dan Penguatan Keterampilan Usaha

Berita Terbaru