Kilas Merdeka – Baihaqqi, sebagai Mahasiswa S2 Magister Manajemen, Sekolah Pascasarjana Unilak dan Praktisi di PT PLN (Persero), melihat bahwa persoalan organisasi sebaiknya tidak hanya dibicarakan sebagai keluhan, tetapi juga sebagai bahan pembelajaran. Di bawah bimbingan Dr. Richa Afriana Munthe, S.E., M.M., Baihaqqi mencoba membaca pengalaman kerjanya dengan sudut pandang manajemen yang lebih tertata.
“Isu yang berkaitan dengan koordinasi antarbagian dan konflik kerja. Berdasarkan pengamatan, persoalannya terlihat ketika penerapan suatu kebijakan oleh bidang tertentu membuat kenyamanan bekerja berkurang, dalam hal ini berkaitan dengan implementasi sistem keamanan data. Karena itu, diperlukan koordinasi antarbagian agar kebijakan yang telah ditetapkan dapat segera diimplementasikan pada setiap unit atau bidang,”. Penyampaian isu ini perlu disampaikan dengan bahasa yang hati-hati, karena tujuan utamanya bukan mencari kesalahan, melainkan mencari jalan perbaikan.
Akar masalahnya berkaitan dengan implementasi perlindungan data pribadi dan penggunaan Endpoint Security pada perangkat kerja seperti PC atau laptop karyawan yang disediakan oleh perusahaan atau perangkat pribadi (BYOD, Bring Your Own Device) seperti smart phone, tablet. Kebijakan tersebut penting untuk melindungi data perusahaan, tetapi pelaksanaannya dapat menimbulkan hambatan jika tidak disertai komunikasi, edukasi, dan koordinasi yang memadai. Jadi, persoalan ini perlu dilihat sebagai rangkaian sebab-akibat di dalam organisasi.
Dari kondisi itu, dampak yang muncul adalah data perusahaan dan sistem komunikasi data menjadi lebih terlindungi dari akses tidak sah. Namun, bagi karyawan, implementasi Endpoint Security dapat membatasi penggunaan aplikasi tertentu, membatasi akses di luar tempat kerja, dan menuntut penyesuaian terhadap cara kerja baru.
Untuk memperkuat gagasan ini, mengaitkan persoalan tersebut dengan Diffusion of Innovations Theory dan Planned Behavior Theory. Diffusion of Innovations Theory relevan karena Endpoint Security merupakan inovasi teknologi yang perlu diperkenalkan, dipahami, diterima, dan diimplementasikan secara bertahap di organisasi. Planned Behavior Theory juga relevan karena keberhasilan implementasi dipengaruhi oleh sikap karyawan terhadap kebijakan, norma organisasi, dan persepsi karyawan mengenai kemudahan atau kesulitan dalam menjalankan perilaku baru.
Mengenai solusi yang paling realistis, dengan melakukan perbaikan yang harus dilakukan secara bertahap. “Saya melihat solusinya adalah memperbaiki komunikasi, memperjelas SOP, memperkuat kompetensi SDM, membangun kolaborasi, dan melakukan evaluasi berbasis data. Yang penting, solusi itu dijalankan dengan komunikasi yang baik, tidak memojokkan siapa pun, dan bisa diterima oleh orang-orang yang terlibat di dalam organisasi,” ungkapnya.
Dr. Chandra, S.T., M.M., sebagai masyarakat, praktisi, dan peneliti ilmu manajemen, memandang gagasan Baihaqqi penting karena menempatkan implementasi teknologi keamanan sebagai proses perubahan organisasi, bukan sekadar pemasangan perangkat. Ia menyarankan agar pembahasan dilengkapi data penerimaan pengguna, tingkat hambatan implementasi, serta ukuran keberhasilan perlindungan data. Dengan cara itu, narasi perbaikan dapat diarahkan pada keseimbangan antara keamanan sistem, kenyamanan kerja, dan kepatuhan organisasi.













