Kediri – Di tengah memanasnya dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Forum Sesepuh NU akhirnya angkat bicara. Para kiai sepuh yang selama ini dikenal sebagai penjaga marwah organisasi menyerukan agar seluruh pihak yang berselisih segera melakukan islah dan menghentikan polemik di ruang publik.
Juru Bicara Forum Sesepuh NU, K.H. Oing Abdul Muid Sohib, mengungkapkan bahwa pertemuan khusus antar para kiai digelar untuk membahas kondisi terkini PBNU yang dianggap sudah terlalu jauh bergulir ke publik.
“Forum Sesepuh NU menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi yang terjadi. Harapan kami hanya satu: segera ada islah,” ujar Gus Muid, Minggu (30/11).
Pertemuan tersebut digagas dua tokoh sentral NU, yakni K.H. Anwar Manshur dari Pesantren Lirboyo, Kediri, dan K.H. Nurul Huda Djazuli dari Pesantren Al Falah Ploso. Keduanya dikenal sebagai panutan di wilayah Kediri dan memiliki pengaruh kuat di lingkungan Nahdliyin.
Di hadapan para peserta forum, Gus Muid menekankan pentingnya meredam eskalasi konflik. Ia meminta agar seluruh pihak yang tengah berseberangan menahan diri dan tidak melontarkan pernyataan ke media yang justru memperkeruh suasana.
“Forum Sesepuh NU menyerukan agar pihak di PBNU yang sedang berkonflik menghentikan pernyataan publik, apalagi yang berpotensi membuka aib dan merusak marwah jamiyah,” tegasnya.
Seruan tersebut muncul setelah beberapa hari terakhir publik disuguhi silang pendapat antar elite PBNU, yang dinilai berpotensi menciptakan perpecahan di akar rumput.
Tidak hanya ditujukan kepada pengurus pusat, Forum Sesepuh NU juga memberi pesan khusus kepada seluruh struktur organisasi di tingkat provinsi hingga cabang istimewa luar negeri.
PWNU, PCNU, hingga PCINU diminta tidak ikut terbawa arus konflik dan tetap memprioritaskan program kerja di wilayah masing-masing. Para kiai sepuh menilai bahwa fokus dan stabilitas di tingkat daerah sangat penting untuk menjaga soliditas organisasi.
“Warga NU di semua tingkatan harus tetap menjalankan tugas masing-masing dan tidak ikut terseret dalam dinamika di pusat,” kata Gus Muid.
Ia juga mengingatkan warga NU untuk menjaga etika bermedia sosial, meningkatkan rasa persaudaraan (ukhuwah nahdliyah), dan memperbanyak doa agar masalah segera tuntas.
Dalam forum tersebut, para kiai sepuh sepakat bahwa pertemuan ini hanyalah langkah awal. Pertemuan lanjutan akan segera digelar untuk mendorong tercapainya rekonsiliasi di tubuh PBNU.
“Kiai sepuh mendorong agar islah bisa segera terwujud. Ini baru awal, dan dalam waktu dekat akan ada rangkaian pertemuan untuk mewujudkan perdamaian,” ungkap Gus Muid.
Pertemuan Forum Sesepuh NU kali ini dihadiri sejumlah tokoh besar, baik secara langsung maupun daring.
Beberapa di antaranya adalah:
• K.H. Anwar Manshur (Pesantren Lirboyo)
• K.H. Nurul Huda Djazuli (Pesantren Al Falah Ploso)
• K.H. Ma’ruf Amin (Wakil Presiden RI) – hadir via Zoom
• K.H. Said Aqil Siroj – hadir via Zoom
• K.H. Abdullah Kafabihi Mahrus (Lirboyo)
• K.H. Abdul Hannan Ma’shum (Kwagean)
• K.H. Kholil As’ad (Situbondo)
• K.H. Ubaidillah Shodaqoh (Semarang)
• K.H. dr. Umar Wahid – via Zoom
• K.H. Abdulloh Ubab Maimoen – via Zoom
Kehadiran para tokoh tersebut menandakan keseriusan mereka dalam memastikan konflik internal PBNU tidak berlarut-larut.















